DI BALIK NAMA SAGARA

Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. {Al-Kahfi : 109}

JADILAH LAUTAN, DIA MENERIMA AIR DARI MANAPUN DAN JENIS APAPUN, KEMUDIAN MENETRALISIRNYA MENJADI AIR YANG BISA DIMANFAATKAN BANYAK MAHLUK HIDUP {GALIH FAHRUDDIN QURBANI}
BAHRUN MUBAROK, M.Si
23 Juli 2009
Berawal di Bandung dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sejak tahun 1997 saya sudah mengelola lembaga kursus Bahasa Inggris. Kalau dihitung, lebih dari tujuh kali kami berganti nama sebelum akhirnya mantap dengan nama SAGARA. Selain ngajar di lembaga kursus yang kami kelola sendiri, saya juga menimba pengalaman mengajar di sejumlah lembaga pendidikan: Al-Ma’soem English Course Bandung, ICB Garut, IPARIN Garut, SSC Garut, ILP Kalimalang dan beberapa perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. Tidak heran kalau saya pernah mengajar di lebih 30 lembaga pendidikan karena sejak pagi buta sampai malam hari, kegiatan saya lebih banyak mengajar dan mengajar.
Adalah Bang Galih Qurbani, sahabat dekat waktu di pesantren dan aktif di PMII cabang Garut yang membuat saya tertarik dengan nama SAGARA. Kalimat yang saya kutip di atas seringkali beliau lontarkan bahkan tertulis di Facebooknya. Kata lautan, atau dalam bahasa sunda disebut SAGARA, saya temukan juga dalam surat Al-Kahfi ayat 109. Kalau Bang Galih saja suka dengan kata lautan kenapa saya tidak. Padahal nama depan saya, Bahrun, artinya lautan atau dalam bahasa sundanya SAGARA.
Terima kasih Bang Galih, terlebih terima kasih buat ayahanda Djauhar Maknun yang telah memberi nama begitu Indah, SAGARA {BAHRUN}. Ada filosofi yang begitu dalam tersimpan dari nama yang engkau berikan, dan pesan luhur yang engkau titipkan. Terima kasih buat ibunda tercinta, Djuhriyah, yang telah banyak direpotkan dan tiada lepas mengirimkan do’a. Terima kasih isteriku sayang, Fauziah, yang senantiasa mendukung obsesi sang suami. Terima kasih anak-anakku, Ali Yasir, Ammar Husein dan Nadzifa. Tawa, canda dan tangis kalian menjadi penghibur dan pengobat rasa lelah dan penat setelah seharian beraktivitas. Terima kasih juga adik-adiku, kalian turut optimis dengan cita-cita sang kakak ketika kebanyakan orang menganggapnya sebagai mimpi belaka.
k menempatinya sebagai tempat kursus Bahasa Inggris SAGARA. Tertarik sih, apalagi rumahnya baru, berlantai dua dan seluruh ruangannya ber AC. Saat itu SAGARA telah berjalan selama setengah tahun dan punya murid, meskipun hanya sekitar 20 siswa saja. Lumayan, dari jumlah tersebut dua orang staff kami setidaknya bisa memperoleh uang jajan.
sana. Akhirnya ngontrak rumah kecil di pinggir komplek tersebut. Lumayan, biayanya hanya ¼ nya.